Resensi Novel
Semesta Mendukung
1.
Identitas buku
-
Judul buku : Semesta
Mendukung
-
Pengarang : Ayu Widya
-
Penerbit : Qanita PT.
Mizan Pustaka
-
Desain sampul : Andreas
Kusumahadi dan BLUE GARDEN
-
Editor : Esti, A.
Budihapsari
-
Cetakan : 1
-
Ukuran : 14cm x 21cm
-
Berat : 180 gram
-
Tahun : 2011
-
Tebal buku : 6-196 hal
-
Harga : Rp.45.000
2.
Isi pokok buku
Arif adalah seorang anak berasal
dari daerah Madura yang sangat pandai terutama pada pelajaran Fisika. Bapaknya
bernama Muslat ialah seorang supir truk serabutan, sedangkan ibunya bernama Salmah
ialah seorang TKI di Singapura.
Sebenarnya Arif tidak pernah
menyetujui ibunya menjadi seorang TKI. Namun, Salmah sudah tidak tahan akan
kelakuan Muslat yang sering menghabiskan uang untuk berjudi, Ia pun akhirnya
melangsungkan niatnya untuk menjadi TKI.
Salmah pergi tanpa sepengetahuan
Arif, karena bila Arif tahu pasti akan melarangnya keras. Ketika itu sebenarnya
Salmah sangat tidak tega meninggalkan anak semata wayangnya yang kala itu masih
berusia 6 tahun. Tapi keputusannya sudah bulat dan ia yakin bahwa ini hal yang
terbaik.
Arif yang mengetahui kepergian
ibunya sangat terpukul dan sedih. Karna orang yang selama ini slalu menemani
dan mendukungnya kini pergi jauh meninggalkannya. Arif slalu berdo’a agar ia
bisa dipertemukan kembali dengan ibunya suatu saat nanti.
7 tahun sudah Arif menjalani
hari-harinya tanpa seorang ibu. Arif sangat rindu pada ibunya, terlebih sudah
beberapa bulan ini ibunya tak lagi menghubinginya atau mengiriminya surat. Arif
yang ingin sekali bertemu ibunya pun bekerja keras untuk mengumpulkan uang agar
ia bisa pergi ke Singapura. Setiap hari sepulang sekolah ia bekerja disebuah
bengkel milik Pak Romli, terkadang juga ia membantu pamannya dalam lomba
karapan sapi. Uang yang ia peroleh ia kumpulkan pada sebuah kaleng harapan.
Dikelasnya Arif adalah murid
terpandai terutama dalam pelajaran Fisika, ia selalu mendapat nilai sempurna.
Guru fisikana Ibu Tari Hayat sangat bangga padanya, setiap kali Ibu Tari Hayat
mengajukan pertanyaan pada Arif, Arif pasti menjawab dengan jawaban yang
memuaskan. Hal itu meyakinkan Tari Hayat bahwa Ariflah yang pantas mewakili
sekolahnya dalam lomba “Olimpiade Sains” tingkat provinsi.
Tari Hayat langsung menawarkan tawaran untuk
mengikuti lomba tersebut kepada Arif. Namun Arif menolaknya, Arif berfikir
bahwa ia tidak mempunyai waktu untuk ikut lomba, karna ia haru bekerja mencari
uang untuk bisa menemui ibunya. Tari Hayat kecewa mendengarnya, tapi ia
mengerti keadaan Arif. Diserahkannya formulir lomba tersebut kepada Arif, Ia
berharap Arif akan berubah pikiran.
Malam harinya Arif melihat kembali
formulir yang dibrikan Ibu Tari Hayat. Pikirannya bimbang, ia sangat menyukai
Fisika, ia ingin mengikuti lomba ini, tapi disisi lain ia ingin bertemu dengan
ibunya. Dibacanya semua tulisan pada formulir tersebut sampai akhirnya ia
menemukan sebuah tulisan “Pemenang Mendapatkan Hadiah Uang Tunai Sebesar 2 Juta
Rupiah” wajahnya langsung berubah senang. Besoknya ia mengumpulkan formulir
tersebut pada Ibu Tari Hayat. Betapa senangnya Tari Hayat, ia yakin bahwa Arif
bisa memenangkan lomba tersebut.
Arif dan Ibu Tari Hayat pun
mempersiapkan segalanya secara matang-matang. Tari Hayat memberikan buku-buku
fisika pada Arif untuk dipelajari. Begitupun Arif yang tekun belajar setiap
hari. Namun tiba-tiba lomba tersebut dibatalkan oleh Pak Nurdin (Kepala
Sekolah) karena biayanya telah habis untuk dibelikan beberapa unit komputer.
Tari Hayat sangat kesal, begitu pula Arif yang mengetahuinya sangat kecewa,
hancur sudah harapannya untuk mendapatkan uang dua juta.
Suatu hari, itu teman-teman Arif
sedang bermain bola, tiba-tiba bolanya tersangkut dipohon yang cukup tinggi.
Mereka kesusahan untuk mengambil bola tersebut, semua cara telah mereka coba
namun tetep tidak berhasil. Arif yang merasa kasihan lalu ikut membantunya, ia
meminta temannya mengambilkan sebuah pompa, dan botol yang berisi air, lalu ia
membuat sebuah pengukuran. Melihat aksi yang dilakukan Arif, Tari Hayat
langsung mengambil ponsel dan merekamnya. Setelah barang yang dibutuhkan
datang, Arif langsung memulai aksinya. Dipompanya keras-keras balon yang berisi
air tersebut sehingga melesat terbang ke atas dan tepat mengenai bola yang
tersangkut, lalu bola tersebut jatuh. Teman-temannya bersorak, sementara Ibu
Tari Hayat tersenyum karna memikirkan sebuah ide.
Dikirimnya rekaman tersebut oleh
Tari Hayat kepada seorang guru pembimbing tim FUSI yang bernama Tio. Tio yang
melihat video rekaman tersebut langsung terkejut dan sangat senang. Ternyata
ada seorang anak SMP yang mampu membuat fisika menjadi praktis. Hal itu
meyakinkannya bahwa anak tersebut mampu untuk bergabung dalam tim FUSI.
Keesokan harinya Tio datang ke
sekolahannya Arif dan menjelaskan bahwa Arif mampu untuk bergabung dalam tim
FUSI, dan akan mengikuti lomba “Olimpiade Fisika Internasional”. Namun Arif
menolak ajakan tersebut dengan alasan yang sama, selain itu ia juga takut
dikecewakan untuk yang kedua kalinya.
Tio dan Tari Hayat terus mencoba
merayu Arif, namun Arif tetap tidak mau. Sampai akhirnya Tio berkata “Baik,
saya mengerti. Mungkin tahun depan kalau kamu sudah siap. Sayang saja.. padahal
kita perlu kamu untuk lomba di Singapura nanti”. Mendengar kata Singapura wajah
Arif langsung tegang dan terlihat tertarik. Akhirnya Arif pun menerima tawaran
tersebut.
Karena Arif harus mendapat bimbingan
terlebih dahulu, maka ia harus tinggal di asrama di Jakarta selama 5 bulan dan
ia harus meminta persetujuan dari ayahnya. Pada awalnya Muslat tidak
mengijinkan karena niat Arif adalah untuk mencari ibunya. Namun melihat
keseriusan Arif, Muslatpun akhirnya mengijinkannya.
Keesokan harinya adalah hari
keberangkatan Arif ke Jakarta. Tio sudah menjemputnya disekolah. Semua
teman-teman Arif dan guru-gurunya tak ketinggalan Ibu Tari Hayat berkumpul
untuk melepas Arif. Namun yang membuat Arif sedih adalah Muslat ayahnya tidak
ada. Arif pun berangkat bersama Tio namun diperjalanan ia masih belum lega
karena belum berpamitan dengan ayahnya.
Ketika diperjalanan Arif melihat
dari spion truk ayahnya ada dibelakang mobil, ia pun langsung minta berhanti
dan turun lalu segera berlari menemui ayahnya. Mereka pun langsung berpelukan.
Lalu Muslat memberikan sebuah sarung kepada Arif dan berpesan “Jangan lupa
Sholat. Semoga Allah memberi jalan untuk apa yang kamu inginkan”.
Arif kembali ke mobil dan
melanjutkan perjalanannya. Kini Arif lega karena ia telah berpamitan dengan
ayahnya dan benar-benar mendapatkan izin. Diperjalanan Arif dan Tio
membicarakan sebuah kata yaitu ‘MESTAKUNG’ yang artinya “Semesta Mendukung.
Seseorang harus punya keinginan kuat, ditambah usaha keras dan ketekunan maka
semesta ini akan membantumu, mewejudkan mimpimu.”
Sesampainya di Asrama, arif langsung
diberi tahu kamarnya dan ia pun langsung beristirahat. Besoknya saat sarapan
pagi, karan Arif belum mempunyai teman, akhirnya ia memilih untuk duduk sendiri
dimeja. Namun sesorang lalu menghampirinya, ia adalah teman sekamar Arif yang
bernama Thamrin mereka ngobrol banyak. Banyak juga anak-anak lain yang
berkenalan dengan Arif. Namun ternyata ada juga seseorang yang memenci Arif,
orang itu bernama Bima.
Arif pun mulai bisa beradaptasi
dengan lingkungannya, ia juga bisa mengikuti pelajaran meski ia satu-satunya
siswa SMP sementara yang lainnya SMA.
Suatu malam, malam itu Arif merasa
lapar begitu pula Thamrin. Namun mereka tak menemukan makanan di dapur.
Akhirnya terpaksa mereka pergi ke luar asrma untuk membeli ketoprak di depan
asrama. Ketoprak tersebut adalah langganannya Thamrin yang penjualnya berasal
dari Madura dan biasa dipanggil Cak Kumis.
Keesokan harinya adalah hari pertama
tes di asrama FUSI. Semua siswa melaksanakan tes dengan penjagaan yang ketat
sehingga tidak dapat mencontek. Ketika mengerjakan soal Arif terlihat ngantuk
karena malemnya ia begadang untuk menghapal pelajaran tersebut. Hasil tesnya
langsung diumumkan dan ditempel dipapan. Arif dan teman-temannya langsung
mencari nama mereka.
Terlihat peringkat satu disana
dengan nama Bima, kedua Clara, ketiga Erwin, keempat Imelda & Anna, kelima
Thamrin.............dst. Alangkah kecewanya Arif karena ia mendapat peringkat
paling bawah. Karena merasa nilainya jelek, Arif mulai kehilangan semangatnya,
ia menjadi murung.
Tio meneliti nilai-nilai Arif dan
terkejud melihatnya. Ia merasa heran dan tidak percaya. Ia pun menanyakannya
langsung pada Arif. Arif bingung ia juga tidak tahu kenapa nilai-nilainya bisa
jatuh.
Malam harinya karena Arif merasa
kecewa dan putus asa, Arif pun berniat untuk kabur dari asrama. Ia menggunakan
cara yang diajarkan oleh Thamrin. Arif ingin pulang ke Madura tapi ia tidak
tahu jalan dan tidak mempunyai tiket pesawat. Arif pun hanya berjalan tanpa
arah tujuan.
Diperjalanan Arif bertemu dengan Cak
Kumis. Arif menceritakan semuanya pada Cak Kumis, lalu Cak Kumis hanya
memberinya sebuah rumus, yaitu Rumus Hidup : “Kalau kerja pakai hati”. Arif
lalu mempertimbangkan kembali keinginannya untuk pulang. Ia membayangkan untuk
bertemu Ibunya, ia lalu memikirkan banyak hal sampai akhirnya ia mendapat
keputusan bahwa ia harus kembali.
Tes yang kedua. Karena Arif sudah
mendapatkan rumus hidup, ia jadi lebih bersemangat belajar, Arif pun merasa
bisa mengerjakan tes dengan baik. Dan ternyata benar hasilnya kini lebih
memuaskan,
Arif pun mendapat peringkat kedelapan. Arif pun
senang, kini ia lebih bersemangat.
Tes terakhir. Tes terakhir adalah
tes penentuan untuk menentukan siapa saja yang akan dikirim ke Singapura untuk
mewakili Indonesia. Karena yang dibutuhkan hanya 6 orang, maka Tio akan
mengambil anak dari peringkat 1-6. Arif berusaha mengerjakan soal-soalnya
sebaik mungkin. Ia berharap ia bisa masuk peringkat 6 besar.
Hasil tes pun diumumkan oleh Tio
secara langsung. Peringkat pertama diraih oleh Clara, Peringkat kedua oleh
Bima, Peringkat ketiga oleh Anna, keempat oleh Erwin, kelima oleh Icut, dan
peringkat keenam oleh Thamrin.
Arif sangat kecewa karena namanya
tidak disebutkan, ia sangat sedih. Arif pun lalu kembali ke kamarnya lalu
memasukan baju-bajunya kedalam koper. Namun Thamrin menghentikannya, ia lalu
membawa Arif untuk menghadap Pa Tio.
Ternyata Tio baru saja mendapat
kabar bahwa wakil dari Indonesia adalah 7 orang, oleh karena itu Tio mengambil
satu orang lagi yaitu yang berada pada peringkat ketujuh. Dan ternyata Ariflah
siswa yang berada pada peringkat ketujuh. Arif sangat senag. Ia merasa
pertemuannya dengan ibunya sudah didepan mata.
Sesampainya di Singapura.
Tes yang sesungguhnya. Hari ini
adalah tes dimana seluruh perwakilan dari seluruh dunia berkumpul untuk
mengerjakan soal yang sama. Penjagaannya sangat ketat sehingga sama sekali
tidak memungkinkan untuk mencontek. Banyak siswa yang kesusahan dalam
mengerjakan soal. Memang karena soalnya sangat susah. Namun Arif tetap terlihat
tenang.
Sementara Tio cemas menunggu siswa
didiknya diruang tunggu bersama guru pembimbing lainnya. Ia berharap semua
materi yang ia ajarkan di ingat baik-baik oleh siswanya. Tio terus berdo’a.
Setelah tes selesai para siswa
langsung menemui guru pembimbingnya dan menceritakan tentang soal-soal
tersebut. Mendengar cerita siswa didiknya Tio yakin mereka pasti dapat yang
terbaik.
Keesokan harinya, rencananya hari
ini akan dipakai untuk hiburan yaitu jalan-jalan. Tio mengajak para siswanya
untuk jalan-jalan di Singapur. Namun Arif dan Thamrin mempunyai rencana lain
mereka ingin mencari Ibunya Arif. Arif pun beralasan sakit perut agar tidak
ikut jalan-jalan dengan Tio.
Sementara Thamrin berasalan menemain Arif. Tio pun
mngijinkannya.
Untung Arif masih menyimpan kertas
yang berisi alamat ibunya. Dengan bantuan Thamrin mereka berhasil membuat
petanya. Lalu mereka pun berangkat, mereka menaiki sebuah kereta bawah tanah.
Karena terkagum-kagum dengan keretanya Arif dan Thamrin sampai kelewatan tempat
yang ditujunya. Sialnya kala itu tas Thamrin yang didalamnya terdapat peta dan
obat Thamrin tertinggal dikereta. Mereka pun kini tersesat.
Mereka berdu’a hanya berjalan dengan
menyisakan alamat kertas, Thamrin yang mengidap penyakit atsma terlihat sesak
napas, akhirnya mereka beristirahat sejenak. Lalu mereka kembali berjalan
beberapa meter hingga menemukan sebuah flat kecil. Mereka masuk dan ternyata
didalamnya ada seorang perempuan yang bersal dari Indonesia bernama Atun yang
ternyata kenal sama Salmah. Arif menceritakan tentang Salmah pada Bu Atun. Bu
Atun kemudian memberi tahu bahwa Salmah sudah tidak tinggal disini, ia sudah
tidak punya pekerjaan lagi, karna sudah dipecat.
Arif dan Thamrin kecewa, mereka lalu
berjalan kembali. Semakin lama sesak napas Thamrin semakin menjadi, mukanya pun
bertambah pucat. Akhirnya Thamrin dan Arif memakai Taksi dan pergi ke rumah
sakit.
Sementara disisi lain Salmah sedang
duduk didekat pantai sambil memandangi ombak lautan. Lalu ia melihat
segerombolah anak muda yang merupakan anggota dari Tim FUSI yang sedang
berfoto-foto, ia pun teringat dengan Arif anaknya. Ia merasa sangat rindu pada
anaknya tersebut. Ia berniat untuk pulang dan menemui anaknya.
Ketika sedang foto-foto. Tio
mendapat telefon yang mengabarkan keadaan Thamrin dan keberadaannya di UGD. Ia
pun langsung panik, begitu pula teman-teman yang lain. Mereka langsung menuju
Rumah Sakit.
Sesampainnya di RS Tio langsung
berbicara dengan dokter. Sementara para siswa mengintrogasi Arif. Tio sangat
khawatir dengan keadaan Thamrin, apalagi besok ia masih harus melaksanakan tes
praktek.
Setelah itu, Tio berbicara pada Arif
dan memarahinya, Karna Arif sudah berbohong pada Tio dan membuat Thamrin
celaka. Begitu pula teman-temannya yang juga terus menyalahkannya. Arif merasa
sangat bersalah dan cemas. Namun tak lama kemudian Thamrin pun sadar dan
menceritakan semuanya. Akhirnya semuanya mengerti dan tidak lagi menyalahkan
Arif.
Keesokan harinya adalah Tes Praktek,
semua peserta harus bisa menjawab soal dengan mempraktekannya. Ketika giliran
Arif, ia menggunakan sarung pemberian ayahnya sebagai bendanya, dalam hati Arif
terus berucap kata “mestakung” sehingga ia bisa mengerjakan soal tersebut.
Hari ini adalah hari yang
ditunggu-tunggu yaitu pengumuman hasilnya. Ternyata hasilnya sangat memuaskan.
Tim FUSI berhasil mendapatkan 3 medali perak yang diperoleh oleh Cut, Erwin,
dan Anna dan 3 medali emas yang diperoleh oleh Clara, Thamrin dan Bima.
Sedangkan Arif menjadi Juara Umum. Betapa senangnya Arif saat itu, begitu pula
Tio dan teman-temannya.
Di Madura, Tari Hayat mengabarkan
hal tersebut pada Muslat. Batapa bahagia dan bangganya Muslat pada saat itu, ia
sangat senang melihat anaknya berhasil sampai ia terharu. Pada saat yang sama,
seseorang mengetuk pintu rumah Muslat dan ternyata yang datang adalah Salmah
istri Muslat. Muslat sangat terkejut dan tak percaya. Muslat pun lalu
menceritakan semua yang terjadi pada Arif ke Salmah. Salmah terharu mendengar
cerita Muslat. Ia sangat ingin cepat bertemu anaknya tersebut.
Beberapa hari kemudian, Arif pun
sampai di Madura, ia disambut oleh Tari hayat dan teman- temannya di rumah.
Semuanya lalu memberinya selamat. Arif yang melihat ayahnya langsung
memeluknya. Muslat pun terharu. Lalu Muslat pun memperlihatkan seseorang pada Arif.
Betapa terkejutnya Arif melihat sosok ibunya tersebut. Ia langsung memeluknya
erat-erat. Arif sangat bahagia hari itu, karna akhirnya keluarga kecilnya bisa
berkumpul bersama kembali.
3. Karakter
buku
Novel
semesta mendukung ini dikemas secara baik, dan disajikan secara menarik. Novel
ini membahas tentang pendidikan, persahabatan dan kasih sayang terutama kasih
sayang kepada ibu. Novel ini mampu membuat pembaca penasaran pada akhir
ceritanya. Dan dari novel ini banyak ilmu yang bisa diambil oleh pembaca,
karena novel ini memberikan banak motivasi, pembelajaran yang disampaikan oleh
penulisnya. Dari novel ini juga memberikan inspirasi kepada pembaca untuk
meraih kesuksesan. Seperti judulnya yaitu “semesta mendukung” . “jika kita
bersungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu, maka semesta akan mendukung”.
4.
Kelebihan buku
-
Memiliki kalimat inspiratif
-
Gambar dan desain berwarna, sehingga
menarik untuk dibaca.
-
Banyak terdapat pesan moral yang
membangun atau memotivasi pembaca.
-
Dalam novel ini juga menjelaskan
point-point penting didalam belajar.
5. Kekurangan
buku
-
Didalam novel ini, terdapat bahasa
campuran seperti adanya bahasa inggris dan bahasa jawa. Jadi bagi pembaca yang
kurang mengerti bahasa inggris maupun bahasa jawa perlu menyesuaikan.
6. kesimpulan
Sebuah novel yang menggambarkan kuatnya
tentang persahabatan, kecintaan pada sains, dan arti kasih ibu. Novel ini
terinspirasi dari kisah-kisah kegemilangan putra-putri Indonesia mengangkat
nama bangsa Indonesia di kancah dunia internasional lewat pelbagai olimpiada
sains.
Muhammad Arif, anak
dari sebuah keluarga miskin dari Sumenep, Madura, sangat menggemari sains,
khususnya fisika. Meski tinggal jauh dari kota besar dan bersekolah dengan
fasilitas yang serbaminim, Arif tetap menekuni fisika.
Arif tinggal
bersama ayahnya, Muslat. mantan petani garam yang beralih profesi menjadi sopir
truk serabutan karena ladang garam sedang dilanda paceklik akibat anomali
cuaca. Hal ini diperparah dengan kegemaran Muslat berjudi. Lantaran kondisi
ekonomi keluarga yang serba kekurangan itu, ibu Arif, Salmah terpaksa bekerja
sebagai TKW di Singapura. Setelah bertahun-tahun belum juga kembali, dan tidak
pernah memberi kabar, Arif sangat merindukannya. Arif bekerja di bengkel
sepulang sekolah dengan cita-cita mengumpulkan uang untuk mencari ibunya. Arif
akan dibantu oleh Cak Alul.
Ibu Tari Hayat
seorang guru fisika, melihat bakat besar yang dimiliki Arif ketika ia sedang
menolong temannya untuk mengambil bola yang tersangkut di pohon menggunakan
konsep roket air. Berkat dorongan Ibu Tari, Arif ikut seleksi olimpiade sains
yang akan diadakan di Singapura. Namun, sesungguhnya Arif memiliki agenda
tersembunyi: menemukan ibunya di sana.
Seleksi dilakukan
oleh Pak Tio Yohanes di Jakarta, yang dibantu oleh Deborah Sinaga. Para peserta
bersaing untuk lolos, sekaligus menjalin persahabatan. Arief menjalin
persahabatan dengan Muhammad Thamrin, dan Clara Annabela. Dengan
kerja keras dan dukungan banyak orang itulah, akhirnya Arif menjadi salah satu
peraih medali emas dan ia kembali bertemu ibunya setelah pulang ke Madura.
7.
Saran
Sebaiknya
bahasa yang digunakan dalam novel ini menggunakan bahasa indonesia yang baik,
supaya semua kalangan pembaca dari tingkat SD hingga masyarakat umum dapat
merealisasikan sikap positif yang ada di novel ini ke dalam kehidupan
sehari-hari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar