Rabu, 30 Desember 2015

Resensi Novel Semesta Mendukung

Resensi Novel Semesta Mendukung

1.      Identitas buku
-          Judul buku : Semesta Mendukung
-          Pengarang : Ayu Widya
-          Penerbit : Qanita PT. Mizan Pustaka
-          Desain sampul : Andreas Kusumahadi dan BLUE GARDEN
-          Editor : Esti, A. Budihapsari
-          Cetakan : 1
-          Ukuran : 14cm x 21cm
-          Berat : 180 gram
-          Tahun : 2011
-          Tebal buku : 6-196 hal
-          Harga : Rp.45.000

2.      Isi pokok buku
Arif adalah seorang anak berasal dari daerah Madura yang sangat pandai terutama pada pelajaran Fisika. Bapaknya bernama Muslat ialah seorang supir truk serabutan, sedangkan ibunya bernama Salmah ialah seorang TKI di Singapura.
Sebenarnya Arif tidak pernah menyetujui ibunya menjadi seorang TKI. Namun, Salmah sudah tidak tahan akan kelakuan Muslat yang sering menghabiskan uang untuk berjudi, Ia pun akhirnya melangsungkan niatnya untuk menjadi TKI.
Salmah pergi tanpa sepengetahuan Arif, karena bila Arif tahu pasti akan melarangnya keras. Ketika itu sebenarnya Salmah sangat tidak tega meninggalkan anak semata wayangnya yang kala itu masih berusia 6 tahun. Tapi keputusannya sudah bulat dan ia yakin bahwa ini hal yang terbaik.
Arif yang mengetahui kepergian ibunya sangat terpukul dan sedih. Karna orang yang selama ini slalu menemani dan mendukungnya kini pergi jauh meninggalkannya. Arif slalu berdo’a agar ia bisa dipertemukan kembali dengan ibunya suatu saat nanti.
7 tahun sudah Arif menjalani hari-harinya tanpa seorang ibu. Arif sangat rindu pada ibunya, terlebih sudah beberapa bulan ini ibunya tak lagi menghubinginya atau mengiriminya surat. Arif yang ingin sekali bertemu ibunya pun bekerja keras untuk mengumpulkan uang agar ia bisa pergi ke Singapura. Setiap hari sepulang sekolah ia bekerja disebuah bengkel milik Pak Romli, terkadang juga ia membantu pamannya dalam lomba karapan sapi. Uang yang ia peroleh ia kumpulkan pada sebuah kaleng harapan.

Dikelasnya Arif adalah murid terpandai terutama dalam pelajaran Fisika, ia selalu mendapat nilai sempurna. Guru fisikana Ibu Tari Hayat sangat bangga padanya, setiap kali Ibu Tari Hayat mengajukan pertanyaan pada Arif, Arif pasti menjawab dengan jawaban yang memuaskan. Hal itu meyakinkan Tari Hayat bahwa Ariflah yang pantas mewakili sekolahnya dalam lomba “Olimpiade Sains” tingkat provinsi.
 Tari Hayat langsung menawarkan tawaran untuk mengikuti lomba tersebut kepada Arif. Namun Arif menolaknya, Arif berfikir bahwa ia tidak mempunyai waktu untuk ikut lomba, karna ia haru bekerja mencari uang untuk bisa menemui ibunya. Tari Hayat kecewa mendengarnya, tapi ia mengerti keadaan Arif. Diserahkannya formulir lomba tersebut kepada Arif, Ia berharap Arif akan berubah pikiran.

Malam harinya Arif melihat kembali formulir yang dibrikan Ibu Tari Hayat. Pikirannya bimbang, ia sangat menyukai Fisika, ia ingin mengikuti lomba ini, tapi disisi lain ia ingin bertemu dengan ibunya. Dibacanya semua tulisan pada formulir tersebut sampai akhirnya ia menemukan sebuah tulisan “Pemenang Mendapatkan Hadiah Uang Tunai Sebesar 2 Juta Rupiah” wajahnya langsung berubah senang. Besoknya ia mengumpulkan formulir tersebut pada Ibu Tari Hayat. Betapa senangnya Tari Hayat, ia yakin bahwa Arif bisa memenangkan lomba tersebut.
Arif dan Ibu Tari Hayat pun mempersiapkan segalanya secara matang-matang. Tari Hayat memberikan buku-buku fisika pada Arif untuk dipelajari. Begitupun Arif yang tekun belajar setiap hari. Namun tiba-tiba lomba tersebut dibatalkan oleh Pak Nurdin (Kepala Sekolah) karena biayanya telah habis untuk dibelikan beberapa unit komputer. Tari Hayat sangat kesal, begitu pula Arif yang mengetahuinya sangat kecewa, hancur sudah harapannya untuk mendapatkan uang dua juta.

Suatu hari, itu teman-teman Arif sedang bermain bola, tiba-tiba bolanya tersangkut dipohon yang cukup tinggi. Mereka kesusahan untuk mengambil bola tersebut, semua cara telah mereka coba namun tetep tidak berhasil. Arif yang merasa kasihan lalu ikut membantunya, ia meminta temannya mengambilkan sebuah pompa, dan botol yang berisi air, lalu ia membuat sebuah pengukuran. Melihat aksi yang dilakukan Arif, Tari Hayat langsung mengambil ponsel dan merekamnya. Setelah barang yang dibutuhkan datang, Arif langsung memulai aksinya. Dipompanya keras-keras balon yang berisi air tersebut sehingga melesat terbang ke atas dan tepat mengenai bola yang tersangkut, lalu bola tersebut jatuh. Teman-temannya bersorak, sementara Ibu Tari Hayat tersenyum karna memikirkan sebuah ide.
Dikirimnya rekaman tersebut oleh Tari Hayat kepada seorang guru pembimbing tim FUSI yang bernama Tio. Tio yang melihat video rekaman tersebut langsung terkejut dan sangat senang. Ternyata ada seorang anak SMP yang mampu membuat fisika menjadi praktis. Hal itu meyakinkannya bahwa anak tersebut mampu untuk bergabung dalam tim FUSI.
Keesokan harinya Tio datang ke sekolahannya Arif dan menjelaskan bahwa Arif mampu untuk bergabung dalam tim FUSI, dan akan mengikuti lomba “Olimpiade Fisika Internasional”. Namun Arif menolak ajakan tersebut dengan alasan yang sama, selain itu ia juga takut dikecewakan untuk yang kedua kalinya.
Tio dan Tari Hayat terus mencoba merayu Arif, namun Arif tetap tidak mau. Sampai akhirnya Tio berkata “Baik, saya mengerti. Mungkin tahun depan kalau kamu sudah siap. Sayang saja.. padahal kita perlu kamu untuk lomba di Singapura nanti”. Mendengar kata Singapura wajah Arif langsung tegang dan terlihat tertarik. Akhirnya Arif pun menerima tawaran tersebut.
Karena Arif harus mendapat bimbingan terlebih dahulu, maka ia harus tinggal di asrama di Jakarta selama 5 bulan dan ia harus meminta persetujuan dari ayahnya. Pada awalnya Muslat tidak mengijinkan karena niat Arif adalah untuk mencari ibunya. Namun melihat keseriusan Arif, Muslatpun akhirnya mengijinkannya.

Keesokan harinya adalah hari keberangkatan Arif ke Jakarta. Tio sudah menjemputnya disekolah. Semua teman-teman Arif dan guru-gurunya tak ketinggalan Ibu Tari Hayat berkumpul untuk melepas Arif. Namun yang membuat Arif sedih adalah Muslat ayahnya tidak ada. Arif pun berangkat bersama Tio namun diperjalanan ia masih belum lega karena belum berpamitan dengan ayahnya.
Ketika diperjalanan Arif melihat dari spion truk ayahnya ada dibelakang mobil, ia pun langsung minta berhanti dan turun lalu segera berlari menemui ayahnya. Mereka pun langsung berpelukan. Lalu Muslat memberikan sebuah sarung kepada Arif dan berpesan “Jangan lupa Sholat. Semoga Allah memberi jalan untuk apa yang kamu inginkan”.  
Arif kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanannya. Kini Arif lega karena ia telah berpamitan dengan ayahnya dan benar-benar mendapatkan izin.  Diperjalanan Arif dan Tio membicarakan sebuah kata yaitu ‘MESTAKUNG’ yang artinya “Semesta Mendukung. Seseorang harus punya keinginan kuat, ditambah usaha keras dan ketekunan maka semesta ini akan membantumu, mewejudkan mimpimu.”

Sesampainya di Asrama, arif langsung diberi tahu kamarnya dan ia pun langsung beristirahat. Besoknya saat sarapan pagi, karan Arif belum mempunyai teman, akhirnya ia memilih untuk duduk sendiri dimeja. Namun sesorang lalu menghampirinya, ia adalah teman sekamar Arif yang bernama Thamrin mereka ngobrol banyak. Banyak juga anak-anak lain yang berkenalan dengan Arif. Namun ternyata ada juga seseorang yang memenci Arif, orang itu bernama Bima.
Arif pun mulai bisa beradaptasi dengan lingkungannya, ia juga bisa mengikuti pelajaran meski ia satu-satunya siswa SMP sementara yang lainnya SMA.

Suatu malam, malam itu Arif merasa lapar begitu pula Thamrin. Namun mereka tak menemukan makanan di dapur. Akhirnya terpaksa mereka pergi ke luar asrma untuk membeli ketoprak di depan asrama. Ketoprak tersebut adalah langganannya Thamrin yang penjualnya berasal dari Madura dan biasa dipanggil Cak Kumis.

Keesokan harinya adalah hari pertama tes di asrama FUSI. Semua siswa melaksanakan tes dengan penjagaan yang ketat sehingga tidak dapat mencontek. Ketika mengerjakan soal Arif terlihat ngantuk karena malemnya ia begadang untuk menghapal pelajaran tersebut. Hasil tesnya langsung diumumkan dan ditempel dipapan. Arif dan teman-temannya langsung mencari nama mereka.
Terlihat peringkat satu disana dengan nama Bima, kedua Clara, ketiga Erwin, keempat Imelda & Anna, kelima Thamrin.............dst. Alangkah kecewanya Arif karena ia mendapat peringkat paling bawah. Karena merasa nilainya jelek, Arif mulai kehilangan semangatnya, ia menjadi murung.

Tio meneliti nilai-nilai Arif dan terkejud melihatnya. Ia merasa heran dan tidak percaya. Ia pun menanyakannya langsung pada Arif. Arif bingung ia juga tidak tahu kenapa nilai-nilainya bisa jatuh.
Malam harinya karena Arif merasa kecewa dan putus asa, Arif pun berniat untuk kabur dari asrama. Ia menggunakan cara yang diajarkan oleh Thamrin. Arif ingin pulang ke Madura tapi ia tidak tahu jalan dan tidak mempunyai tiket pesawat. Arif pun hanya berjalan tanpa arah tujuan.
Diperjalanan Arif bertemu dengan Cak Kumis. Arif menceritakan semuanya pada Cak Kumis, lalu Cak Kumis hanya memberinya sebuah rumus, yaitu Rumus Hidup : “Kalau kerja pakai hati”. Arif lalu mempertimbangkan kembali keinginannya untuk pulang. Ia membayangkan untuk bertemu Ibunya, ia lalu memikirkan banyak hal sampai akhirnya ia mendapat keputusan bahwa ia harus kembali.

Tes yang kedua. Karena Arif sudah mendapatkan rumus hidup, ia jadi lebih bersemangat belajar, Arif pun merasa bisa mengerjakan tes dengan baik. Dan ternyata benar hasilnya kini lebih memuaskan,
Arif pun mendapat peringkat kedelapan. Arif pun senang, kini ia lebih bersemangat.
Tes terakhir. Tes terakhir adalah tes penentuan untuk menentukan siapa saja yang akan dikirim ke Singapura untuk mewakili Indonesia. Karena yang dibutuhkan hanya 6 orang, maka Tio akan mengambil anak dari peringkat 1-6. Arif berusaha mengerjakan soal-soalnya sebaik mungkin. Ia berharap ia bisa masuk peringkat 6 besar.
Hasil tes pun diumumkan oleh Tio secara langsung. Peringkat pertama diraih oleh Clara, Peringkat kedua oleh Bima, Peringkat ketiga oleh Anna, keempat oleh Erwin, kelima oleh Icut, dan peringkat keenam oleh Thamrin.
Arif sangat kecewa karena namanya tidak disebutkan, ia sangat sedih. Arif pun lalu kembali ke kamarnya lalu memasukan baju-bajunya kedalam koper. Namun Thamrin menghentikannya, ia lalu membawa Arif untuk menghadap Pa Tio.
Ternyata Tio baru saja mendapat kabar bahwa wakil dari Indonesia adalah 7 orang, oleh karena itu Tio mengambil satu orang lagi yaitu yang berada pada peringkat ketujuh. Dan ternyata Ariflah siswa yang berada pada peringkat ketujuh. Arif sangat senag. Ia merasa pertemuannya dengan ibunya sudah didepan mata.

Sesampainya di Singapura.
Tes yang sesungguhnya. Hari ini adalah tes dimana seluruh perwakilan dari seluruh dunia berkumpul untuk mengerjakan soal yang sama. Penjagaannya sangat ketat sehingga sama sekali tidak memungkinkan untuk mencontek. Banyak siswa yang kesusahan dalam mengerjakan soal. Memang karena soalnya sangat susah. Namun Arif tetap terlihat tenang.
Sementara Tio cemas menunggu siswa didiknya diruang tunggu bersama guru pembimbing lainnya. Ia berharap semua materi yang ia ajarkan di ingat baik-baik oleh siswanya. Tio terus berdo’a.
Setelah  tes selesai para siswa langsung menemui guru pembimbingnya dan menceritakan tentang soal-soal tersebut. Mendengar cerita siswa didiknya Tio yakin mereka pasti dapat yang terbaik.

Keesokan harinya, rencananya hari ini akan dipakai untuk hiburan yaitu jalan-jalan. Tio mengajak para siswanya untuk jalan-jalan di Singapur. Namun Arif dan Thamrin mempunyai rencana lain mereka ingin mencari Ibunya Arif. Arif pun beralasan sakit perut agar tidak ikut jalan-jalan dengan Tio.


Sementara Thamrin berasalan menemain Arif. Tio pun mngijinkannya.

Untung Arif masih menyimpan kertas yang berisi alamat ibunya. Dengan bantuan Thamrin mereka berhasil membuat petanya. Lalu mereka pun berangkat, mereka menaiki sebuah kereta bawah tanah. Karena terkagum-kagum dengan keretanya Arif dan Thamrin sampai kelewatan tempat yang ditujunya. Sialnya kala itu tas Thamrin yang didalamnya terdapat peta dan obat Thamrin tertinggal dikereta. Mereka pun kini tersesat.
Mereka berdu’a hanya berjalan dengan menyisakan alamat kertas, Thamrin yang mengidap penyakit atsma terlihat sesak napas, akhirnya mereka beristirahat sejenak. Lalu mereka kembali berjalan beberapa meter hingga menemukan sebuah flat kecil. Mereka masuk dan ternyata didalamnya ada seorang perempuan yang bersal dari Indonesia bernama Atun yang ternyata kenal sama Salmah. Arif menceritakan tentang Salmah pada Bu Atun. Bu Atun kemudian memberi tahu bahwa Salmah sudah tidak tinggal disini, ia sudah tidak punya pekerjaan lagi, karna sudah dipecat.
Arif dan Thamrin kecewa, mereka lalu berjalan kembali. Semakin lama sesak napas Thamrin semakin menjadi, mukanya pun bertambah pucat. Akhirnya Thamrin dan Arif memakai Taksi dan pergi ke rumah sakit.

Sementara disisi lain Salmah sedang duduk didekat pantai sambil memandangi ombak lautan. Lalu ia melihat segerombolah anak muda yang merupakan anggota dari Tim FUSI yang sedang berfoto-foto, ia pun teringat dengan Arif anaknya. Ia merasa sangat rindu pada anaknya tersebut. Ia berniat untuk pulang dan menemui anaknya.
Ketika sedang foto-foto. Tio mendapat telefon yang mengabarkan keadaan Thamrin dan keberadaannya di UGD. Ia pun langsung panik, begitu pula teman-teman yang lain. Mereka langsung menuju Rumah Sakit.

Sesampainnya di RS Tio langsung berbicara dengan dokter. Sementara para siswa mengintrogasi Arif. Tio sangat khawatir dengan keadaan Thamrin, apalagi besok ia masih harus melaksanakan tes praktek.
Setelah itu, Tio berbicara pada Arif dan memarahinya, Karna Arif sudah berbohong pada Tio dan membuat Thamrin celaka. Begitu pula teman-temannya yang juga terus menyalahkannya. Arif merasa sangat bersalah dan cemas. Namun tak lama kemudian Thamrin pun sadar dan menceritakan semuanya. Akhirnya semuanya mengerti dan tidak lagi menyalahkan Arif.

Keesokan harinya adalah Tes Praktek, semua peserta harus bisa menjawab soal dengan mempraktekannya. Ketika giliran Arif, ia menggunakan sarung pemberian ayahnya sebagai bendanya, dalam hati Arif terus berucap kata “mestakung” sehingga ia bisa mengerjakan soal tersebut.

Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu yaitu pengumuman hasilnya. Ternyata hasilnya sangat memuaskan. Tim FUSI berhasil mendapatkan 3 medali perak yang diperoleh oleh Cut, Erwin, dan Anna dan 3 medali emas yang diperoleh oleh Clara, Thamrin dan Bima. Sedangkan Arif menjadi Juara Umum. Betapa senangnya Arif saat itu, begitu pula Tio dan teman-temannya.

Di Madura, Tari Hayat mengabarkan hal tersebut pada Muslat. Batapa bahagia dan bangganya Muslat pada saat itu, ia sangat senang melihat anaknya berhasil sampai ia terharu. Pada saat yang sama, seseorang mengetuk pintu rumah Muslat dan ternyata yang datang adalah Salmah istri Muslat. Muslat sangat terkejut dan tak percaya. Muslat pun lalu menceritakan semua yang terjadi pada Arif ke Salmah. Salmah terharu mendengar cerita Muslat. Ia sangat ingin cepat bertemu anaknya tersebut.

Beberapa hari kemudian, Arif pun sampai di Madura, ia disambut oleh Tari hayat dan teman- temannya di rumah. Semuanya lalu memberinya selamat. Arif yang melihat ayahnya langsung memeluknya. Muslat pun terharu. Lalu Muslat pun memperlihatkan seseorang pada Arif. Betapa terkejutnya Arif melihat sosok ibunya tersebut. Ia langsung memeluknya erat-erat. Arif sangat bahagia hari itu, karna akhirnya keluarga kecilnya bisa berkumpul bersama kembali.

3.      Karakter buku
Novel semesta mendukung ini dikemas secara baik, dan disajikan secara menarik. Novel ini membahas tentang pendidikan, persahabatan dan kasih sayang terutama kasih sayang kepada ibu. Novel ini mampu membuat pembaca penasaran pada akhir ceritanya. Dan dari novel ini banyak ilmu yang bisa diambil oleh pembaca, karena novel ini memberikan banak motivasi, pembelajaran yang disampaikan oleh penulisnya. Dari novel ini juga memberikan inspirasi kepada pembaca untuk meraih kesuksesan. Seperti judulnya yaitu “semesta mendukung” . “jika kita bersungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu, maka semesta akan mendukung”.

4.      Kelebihan buku
-          Memiliki kalimat inspiratif
-          Gambar dan desain berwarna, sehingga menarik untuk dibaca.
-          Banyak terdapat pesan moral yang membangun atau memotivasi pembaca.
-          Dalam novel ini juga menjelaskan point-point penting didalam belajar.


5.      Kekurangan buku
-          Didalam novel ini, terdapat bahasa campuran seperti adanya bahasa inggris dan bahasa jawa. Jadi bagi pembaca yang kurang mengerti bahasa inggris maupun bahasa jawa perlu menyesuaikan.


6.      kesimpulan
 Sebuah novel yang menggambarkan kuatnya tentang persahabatan, kecintaan pada sains, dan arti kasih ibu. Novel ini terinspirasi dari kisah-kisah kegemilangan putra-putri Indonesia mengangkat nama bangsa Indonesia di kancah dunia internasional lewat pelbagai olimpiada sains.
Muhammad Arif, anak dari sebuah keluarga miskin dari Sumenep, Madura, sangat menggemari sains, khususnya fisika. Meski tinggal jauh dari kota besar dan bersekolah dengan fasilitas yang serbaminim, Arif tetap menekuni fisika.
Arif tinggal bersama ayahnya, Muslat. mantan petani garam yang beralih profesi menjadi sopir truk serabutan karena ladang garam sedang dilanda paceklik akibat anomali cuaca. Hal ini diperparah dengan kegemaran Muslat berjudi. Lantaran kondisi ekonomi keluarga yang serba kekurangan itu, ibu Arif, Salmah terpaksa bekerja sebagai TKW di Singapura. Setelah bertahun-tahun belum juga kembali, dan tidak pernah memberi kabar, Arif sangat merindukannya. Arif bekerja di bengkel sepulang sekolah dengan cita-cita mengumpulkan uang untuk mencari ibunya. Arif akan dibantu oleh Cak Alul.
Ibu Tari Hayat seorang guru fisika, melihat bakat besar yang dimiliki Arif ketika ia sedang menolong temannya untuk mengambil bola yang tersangkut di pohon menggunakan konsep roket air. Berkat dorongan Ibu Tari, Arif ikut seleksi olimpiade sains yang akan diadakan di Singapura. Namun, sesungguhnya Arif memiliki agenda tersembunyi: menemukan ibunya di sana.
Seleksi dilakukan oleh Pak Tio Yohanes di Jakarta, yang dibantu oleh Deborah Sinaga. Para peserta bersaing untuk lolos, sekaligus menjalin persahabatan. Arief menjalin persahabatan dengan Muhammad Thamrin, dan Clara Annabela. Dengan kerja keras dan dukungan banyak orang itulah, akhirnya Arif menjadi salah satu peraih medali emas dan ia kembali bertemu ibunya setelah pulang ke Madura.
7.      Saran

Sebaiknya bahasa yang digunakan dalam novel ini menggunakan bahasa indonesia yang baik, supaya semua kalangan pembaca dari tingkat SD hingga masyarakat umum dapat merealisasikan sikap positif yang ada di novel ini ke dalam kehidupan sehari-hari. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar